Kebijaksanaan dan Kemulian Menjadikan Adam Lebih Tinggi Derajatnya dari Malaikat

Google Plus Stumbleupon


Bait Bait Illah untuk pendidikan Rohani Buku Karya Jalaluddin Rumi/
Bait Bait Illah untuk pendidikan Rohani Buku Karya Jalaluddin Rumi/ /

SORAKLINTERA.NET, ARTIKEL – Dia Berkata “ Demi Allah, yang mengetahui rahasia-rahasia tersembunyi, yang menciptakan Adam murni dari tanah dalam yang diberikan kepadanya, yaitu setinggi tiga depa. Dia menampakkan kandungan dari ssegi ruh, segala firman! Kitab eksistensi yang sulit dicerna pun disampaikan kepadanya segal yang pertama dan terakhir hingga keabadian tak berujung.

Dia mengajari Adam dengan pengetahuan tentang nama namanya sendiri, supaya malaikat kebingungan mendengarkan pengetahuannya. Dan mendapatkan derajat lebih tinggi akibat pemberian derajat kepada Adam.

Perluasan pikiran para malaikat, yang dipicu oleh adam, tidaklah bisa disamai oleh surga. Sebab perluasan dari pikiran murni itu tidaklah cukup tertampung oleh ruang lebar tujuh langit.

Rasulullah bersabda bahwa tuhan telah berfirman : aku tidak tercukup didalam apapun diatas atau dibawah akutidak tercukupkan di bumi atau dilangit, atau bahkan dilangit tertinggi. Ketahuilah ini dengan pasti, wahai kekasih !

Namun, aku ada didalam hati kaum mukmin. Jika kau mencariku, carilah dihati yang demikian !

Tuhan juga berfirman, “ Masuklah kedalam golongan hamba – hambaku untuk mendapatkan surga dari-ku yang memandang, wahai orang orang yang bertakwa”

Langit tertinggi adalah keagungan yang terungkap. Namun, apa artinya bentuk ketika kenyataan mendekat? Setiap malaikat berkata. “pada zaman dahulu kala, kami bersahabat dengan dataran bumi. Kami biasa menyemai benih pelayanan dimuka bumi, kemudian kami menjadikan sangat dekat denganya. Kedekatan  macam apa ini anatara kami dan rumah bumi padahal tabiat kami adalah surgawi ? apakah arti persahabatan cahaya  seperti kami bagi kegelapan ? baimana cahaya tinggal bersama kegelapan ? Wahai adam ! persahabatan itu muncul dari wewangian dirimu, karena tanah adalah lengkungan dan pakan tubuhmu.

Raga duniawi mu datang dari tanah, Ruh murni cahayamu tercurah oleh ruhmu jauh sebelum bumi mengerakan ruhmu kedirinya. Kami biasa ada di bumi, namun abai terhadap bumi, abai terhadap harta karun yang terkubur di dalamnya. Saat kami diperintahkan untuk pergi dari tempat itu, kami merasa sedih tatkala melangkah menuju dirinya. Sehingga kami mengajukan banyak pertanyaaan dengan berkata, “ wahai tuhan kami ! Siapakah yang akan menggantikan kami ? apakah engkau akan menukar keagungan puja-pujia dan zikir kami dengan racuan kosong manusia ?“

Perintah tuhan karenanya membuyarkan kebahagiaan kami; dia lantar berkata apakah yang kalian katakan dengan berpanjang lebar ? mengapa lisan kalian begitu pandir layaknya kata kata anak manja kepada ayah mereka. Aku sudah tahu apa yang kalian pikirkan, namun aku ingin kalian mengatakan dengan sendirinya, keluh kesah kalian ini sungguh tidak pantas, namun rahmat Ku mendahului murka ku.

Wahai malaikat, untuk menunjukan rahmatku Itu, aku mengilhamkan kelakuan kalian yang merengek dan meragu, jika kalian mengutarakan maksud kalian dan akau tidak menghukum kalian, penentang rahmatku harus membisu.

Rahmatku setara dengan kasih sayang saratus ayah dan ibu, setiap jiwa yang lahir terpesona karena itu. Kasih sayang mereka hanyalah buih jika dibandingkan lautan Rahmat Ku: sekedar buih ombak, sementara lautan itu abadi selamanya ! apalagi yang perlu aku katakan ? di dicangkang tanah itu hanyalah ada buih dari buihnya buih dari buih !” tuhan adalah buih itu; tuhan juga lautan sejati, karena firmanya bukanlah bujuk rayu dakuan kosong. (*)

 



Sumber: Matsnawi, Bait Bait Illah Pendidikan Rohani Karya Jalaluddin Rumi (Kebijaksanaan dan Kemulian Memned

Komentar Anda